-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Expand file tree
/
Copy pathTGl8.js
More file actions
321 lines (184 loc) · 28.4 KB
/
Copy pathTGl8.js
File metadata and controls
321 lines (184 loc) · 28.4 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280
281
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
const volume7Data = {
volumeNum: 7,
volumeTitle: "Fajar Baru dan Sebuah Janji",
chapters: [
{
chapterNum: 1,
chapterTitle: "Pagi Setelahnya",
content: `Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena kehangatan asing yang menekan punggungku. Butuh beberapa detik bagi otakku yang masih terbungkus kabut tidur untuk memproses situasinya. Aroma manis yang samar, seperti bunga lili dan aroma khas Claire, menyelinap ke dalam indra penciumanku. Lengan yang lembut melingkari pinggangku dari belakang, dan aku bisa merasakan napas yang teratur dan hangat di tengkukku.
Semalam.
Gelombang ingatan menerjangku dengan kekuatan badai. Kamar mandi yang beruap. Handuk yang jatuh. Penemuan setiap lekuk tubuhnya. Desahannya, erangannya, teriakan nikmatnya. Sensasi panas dan sempit saat aku memasuki dirinya. Kehangatan benihku yang memenuhinya. Enam ronde. Enam. Realita itu begitu dahsyat hingga membuatku sulit bernapas.
Dengan sangat hati-hati, aku membalikkan tubuhku. Di sana, tertidur dengan lelapnya, adalah Claire. Wajahnya yang damai terlihat begitu polos, sangat kontras dengan dewi gairah yang buas semalam. Rambut pirangnya yang acak-acakan tersebar di atas bantalku. Bibirnya sedikit bengkak dan merah, sisa dari ciuman kami yang tak terhitung jumlahnya. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya, memperlihatkan bahunya yang mulus yang dihiasi beberapa bekas kemerahan—bekas ciumanku. Tanda kepemilikanku.
Perasaan posesif yang kuat membuncah di dalam dadaku. Gadis ini, dengan segala sisinya yang kontradiktif, adalah milikku. Dan aku adalah miliknya. Kami telah berbagi sesuatu yang tak bisa ditarik kembali. Kami telah memberikan bagian paling intim dari diri kami satu sama lain.
Aku berbaring di sana untuk waktu yang lama, hanya menatapnya, merekam setiap detailnya ke dalam ingatanku. Sprei kami berantakan dan sedikit lengket di beberapa tempat, sebuah peta dari medan pertempuran gairah kami. Pakaian kami teronggok begitu saja di lantai. Kamar ini telah menjadi kepompong kami, dan aku merasa kami akan keluar sebagai sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda.
Perlahan, mata Claire mulai bergetar. Dia mengerang pelan, meregangkan tubuhnya seperti kucing, dan matanya yang biru safir perlahan terbuka. Dia mengerjap beberapa kali, lalu matanya bertemu dengan mataku. Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap dalam keheningan. Aku melihat kesadaran perlahan muncul di matanya, diikuti oleh rona merah yang menjalar dari leher hingga ke pipinya.
"Pagi," bisikku, suaraku serak.
"Pagi," balasnya, suaranya nyaris tak terdengar. Dia dengan cepat menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dagunya, seolah baru menyadari bahwa kami berdua telanjang.
Kecanggungan pasca-keintiman yang tak terhindarkan mulai menyelimuti kami. Apa yang harus kami katakan? Apa yang harus kami lakukan sekarang?
"Kau... baik-baik saja?" tanyaku, merasa itu adalah pertanyaan paling bodoh namun paling penting saat ini. "Maksudku... apa ada yang sakit?"
Dia berpikir sejenak, lalu rona merah di wajahnya semakin dalam. "Sedikit... di bagian bawah. Tapi... sakit yang menyenangkan."
Pengakuannya yang jujur membuatku tersenyum. "Syukurlah."
Aku mengulurkan tangan dan dengan lembut menyibakkan rambut dari wajahnya. "Aku tidak akan pernah melupakan malam ini, Claire."
Dia menatapku, dan kecanggungan di matanya perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan dan kasih sayang yang dalam. "Aku juga," bisiknya. "Aku tidak tahu... aku bisa merasakan hal seperti itu. Kau... membangkitkan sesuatu di dalam diriku."
Aku mencondongkan tubuhku dan memberinya ciuman pagi yang lembut. Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya kelembutan dan penegasan kembali ikatan kami. Saat bibir kami terlepas, dia tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Tapi ini memalukan!" gumamnya, suaranya teredam. "Aku tidak bisa menatapmu! Aku semalam... begitu... tidak tahu malu."
Aku tertawa kecil dan memeluknya. "Aku menyukai sisimu yang 'tidak tahu malu' itu. Sangat."
Kami berbaring seperti itu untuk beberapa saat. Realita perlahan mulai merayap masuk. Kami harus bangun. Kami harus membersihkan diri. Kami harus menghadapi hari yang baru sebagai pasangan yang telah melewati Rubikon. Hubungan kami telah memasuki level yang baru, dan aku merasa petualangan kami yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.`
},
{
chapterNum: 2,
chapterTitle: "Rahasia Bersama",
content: `Menghadapi dunia luar setelah malam transformatif kami adalah pengalaman yang aneh. Semuanya terlihat sama, namun terasa berbeda. Saat kami berjalan ke sekolah, kami kembali ke rutinitas biasa kami: bergandengan tangan. Tapi sekarang, sentuhan sederhana itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Aku bisa merasakan sisa-sisa kehangatan semalam di telapak tangannya. Setiap kali jari-jarinya bergerak di antara jari-jariku, pikiranku langsung melayang pada bagaimana jari-jari itu meremas punggungku saat dia mencapai puncak.
Di sekolah, tidak ada yang tahu. Kami adalah Alip dan Claire yang sama di mata teman-teman kami. Kami duduk berdampingan, dan sesekali, di bawah meja, aku akan menggeser kakiku untuk menyentuh kakinya. Dia akan sedikit tersentak, lalu memberiku lirikan tajam yang pura-pura marah, tapi aku bisa melihat kilatan geli dan sisa-sisa gairah di matanya. Kami memiliki dunia rahasia kami sendiri sekarang, sebuah dunia yang penuh dengan kode dan makna tersembunyi yang hanya kami berdua yang mengerti.
"Kalian berdua terlihat... berbeda hari ini," komentar Ryo saat istirahat makan siang. Dia menatap kami dengan curiga. "Lebih... menempel? Entahlah. Auranya berbeda."
"Perasaanmu saja," jawabku cepat, mencoba terdengar normal sambil menahan keinginan untuk tersenyum.
"Benarkah?" Ryo menyipitkan matanya. "Claire-san, wajahmu terlihat lebih cerah hari ini. Kulitmu juga terlihat lebih... bersinar? Kau pakai produk perawatan kulit baru?"
Wajah Claire langsung memerah. Aku tahu persis 'produk' apa yang membuatnya 'bersinar'. Itu adalah kombinasi dari kurang tidur, aktivitas fisik yang intens, dan kepuasan murni.
"Aku... hanya tidur nyenyak," elak Claire, menghindari tatapan Ryo.
Ryo hanya mengangkat bahu, tidak curiga lebih jauh. Tapi aku tahu, cepat atau lambat, kedekatan kami yang baru ini akan terlihat semakin jelas.
Sesi belajar kami setelah sekolah juga berubah. Kamar tidur yang tadinya adalah medan pertempuran akademis, kini juga menjadi tempat suci kami. Suasananya dipenuhi dengan ketegangan yang berbeda. Kami mencoba untuk fokus pada buku-buku kami, tapi kesadaran akan apa yang telah terjadi di ranjang yang hanya beberapa meter dari kami membuat konsentrasi menjadi sulit.
Suatu sore, saat kami sedang belajar di kamarku, aku merasakan sesuatu menyentuh pahaku di bawah meja. Aku melirik ke bawah. Kaki Claire dengan hati-hati menyelinap keluar dari sepatunya dan kini menggesek-gesek kakiku dengan sensual.
Aku menatapnya. Dia pura-pura membaca buku dengan serius, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum licik. Pelatih Iblis-ku kini memiliki senjata baru dalam arsenalnya: godaan.
"Claire, hentikan," bisikku, mencoba terdengar tegas tapi gagal total. Kontolku sudah mulai bereaksi.
"Hentikan apa?" balasnya dengan nada polos, kakinya terus bergerak semakin tinggi. "Aku hanya sedang meregangkan kakiku."
Aku menghela napas pasrah sekaligus terangsang. Aku menutup bukuku. "Baiklah, kau menang. Istirahat lima belas menit."
Senyum kemenangan terukir di wajahnya. Sisa waktu istirahat itu kami habiskan dengan berciuman panas di sofa, tangan kami saling menjelajahi di balik seragam kami. Kami harus berhenti sebelum segalanya menjadi terlalu jauh, tapi itu adalah pengingat yang menyenangkan bahwa hubungan kami kini memiliki dinamika baru. Kami bukan hanya pasangan yang belajar bersama; kami adalah sepasang kekasih yang berbagi hasrat yang dalam.
Menyimpan rahasia ini, dunia intim yang kami bangun bersama, terasa begitu mendebarkan. Itu adalah milik kami, dan tidak ada orang lain yang perlu tahu. Setidaknya, belum. Keintiman fisik ini tidak mengurangi fokus kami pada tujuan universitas; sebaliknya, itu justru memperkuatnya. Kini kami berjuang bukan hanya untuk masa depan bersama, tapi juga untuk lebih banyak malam seperti malam pertama kami.`
},
{
chapterNum: 3,
chapterTitle: "Percakapan di Bawah Bintang",
content: `Beberapa minggu berlalu. Kehidupan kami telah menemukan ritme baru yang nyaman. Siang hari kami adalah siswa teladan yang berjuang untuk masa depan akademis kami. Malam hari, terutama di akhir pekan, kami adalah sepasang kekasih yang menjelajahi batas-batas gairah dan keintiman kami. Kami menjadi lebih berani, mencoba berbagai hal baru, dan setiap sesi bercinta seolah membuka lapisan baru dari kepribadian Claire yang tersembunyi. Dia bisa menjadi begitu dominan dan menuntut, namun di saat lain bisa menjadi sangat lembut dan pasrah. Aku jatuh cinta padanya lagi dan lagi.
Namun, di tengah semua kebahagiaan fisik dan emosional ini, ada sebuah awan kecil yang menggantung di kejauhan. Sesuatu yang kami hindari untuk dibicarakan secara serius: masa depan yang sebenarnya.
Suatu Sabtu malam, setelah sesi bercinta yang panjang dan memuaskan, kami tidak langsung tertidur. Kami berbaring di tempat tidurku, menatap langit-langit, mendengarkan suara jangkrik di luar.
"Alip," panggil Claire pelan, memecah keheningan.
"Hmm?"
"Apa... kau pernah berpikir... tentang apa yang akan terjadi jika kita gagal?"
Aku menoleh. "Gagal apa? Ujian?"
"Bukan hanya itu," katanya. "Gagal... tetap bersama. Ayahku... kontrak kerjanya di cabang Tokyo akan berakhir dalam satu setengah tahun. Setelah itu, ada kemungkinan besar dia akan dipindahkan lagi. Mungkin ke negara lain."
Awan itu. Aku selalu tahu keberadaannya, tapi aku tidak pernah mau melihatnya secara langsung. Kemungkinan bahwa dunia sempurna yang kami bangun ini memiliki tanggal kedaluwarsa.
"Kau tidak akan pergi," kataku dengan keyakinan yang kupaksakan. "Kita akan masuk universitas yang sama. Kau akan tinggal di sini."
"Itu rencananya," bisiknya. "Tapi bagaimana jika aku tidak diizinkan? Aku masih di bawah umur. Aku sangat mencintai ayahku, aku tidak bisa begitu saja menentangnya."
Ketakutan terbesar dalam suaranya bukanlah tentang meninggalkan Jepang. Itu tentang meninggalkanku. Aku bisa merasakannya. Dan itu membuat hatiku sakit.
Aku memeluknya lebih erat. "Kita akan mencari jalannya. Kita pasti akan menemukan caranya."
"Tapi bagaimana?"
Aku terdiam. Aku tidak punya jawabannya. Untuk pertama kalinya, cinta dan kerja keras saja terasa tidak cukup. Ada faktor-faktor di luar kendali kami—pekerjaan ayahnya, birokrasi, jarak.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Alip," katanya, suaranya bergetar. "Terutama sekarang. Setelah... kita berbagi segalanya. Aku merasa... sebagian dari diriku akan ikut mati jika kita harus berpisah."
Aku merasakan mataku memanas. "Aku juga, Claire. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu."
Kami berbaring di sana, di bawah selimut yang sama, di dalam kehangatan tubuh satu sama lain, namun merasa sedikit dingin karena ketidakpastian masa depan. Seks telah mengikat kami secara fisik dengan cara yang paling kuat, tetapi ikatan itu juga membuat kemungkinan perpisahan menjadi seratus kali lebih menyakitkan.
Malam itu, saat aku menatap wajahnya yang tertidur, sebuah ide gila, radikal, dan menakutkan mulai terbentuk di benakku. Sebuah ide yang mungkin merupakan satu-satunya cara untuk memastikan masa depan kami. Sebuah cara untuk mengikatnya padaku bukan hanya dengan janji atau gairah, tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih permanen. Sesuatu yang bahkan ayahnya pun tidak bisa membantahnya dengan mudah.
Ide itu membuat jantungku berdebar kencang karena campuran antara rasa takut dan tekad. Aku belum siap untuk mengatakannya, bahkan pada diriku sendiri. Tapi benih itu telah ditanam.`
},
{
chapterNum: 4,
chapterTitle: "Pertemuan Kedua dengan Dmitri",
content: `Benih ide yang ditanam pada malam itu terus tumbuh di dalam diriku. Ide itu begitu besar hingga membayangi semua pikiranku yang lain. Jika aku ingin melakukan ini, aku harus melakukannya dengan benar. Aku tidak bisa hanya bertindak gegabah. Aku butuh dasar yang kuat. Dan dasar itu dimulai dengan satu orang: Dmitri Louise.
Ayah Claire kembali dari perjalanan dinasnya seminggu kemudian. Aku tahu aku harus menemuinya. Bukan lagi sebagai pacar putrinya yang gugup, tetapi sebagai seorang pria yang memiliki niat serius.
Aku memberanikan diri meneleponnya dan meminta waktu untuk berbicara. Permintaanku yang formal sepertinya membuatnya penasaran. Beliau setuju untuk menemuiku untuk minum kopi di sebuah kafe hotel yang tenang pada hari Minggu sore. Aku sengaja tidak memberitahu Claire. Ini adalah urusanku.
Aku mengenakan kemeja terbaikku dan datang lima belas menit lebih awal. Saat Tuan Louise tiba, beliau tampak sama mengintimidasinya seperti sebelumnya, namun kali ini ada sedikit kehangatan di matanya saat beliau menyapaku.
"Nakamura-kun," sapanya. "Terima kasih sudah datang. Claire tidak tahu tentang ini, kan?"
"Tidak, Tuan. Saya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi."
Kami memesan kopi, dan setelah basa-basi singkat, aku langsung ke intinya. Aku tidak ingin membuang-buang waktunya.
"Tuan Louise, saya tahu ini mungkin terdengar lancang dan terlalu dini, tapi saya sangat serius dengan putri Anda."
Beliau hanya mengangkat alis, memberi isyarat agar aku melanjutkan.
"Saya mencintai Claire lebih dari apa pun. Sejak bertemu dengannya, hidup saya telah berubah. Dia telah membuat saya menjadi orang yang lebih baik, lebih termotivasi. Tujuan saya saat ini adalah belajar sekeras mungkin agar bisa masuk ke universitas yang sama dengannya, sehingga kami bisa terus bersama."
Aku berhenti sejenak, mengumpulkan keberanianku. "Namun, saya sadar ada kemungkinan Anda akan dipindahtugaskan di masa depan. Dan saya... saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa Claire."
Dmitri menatapku lekat, ekspresinya tidak terbaca. Beliau menyesap kopinya perlahan. Keheningan itu terasa menyiksa.
"Dan apa yang kau harapkan dariku, Nakamura-kun?" tanyanya akhirnya, suaranya tenang.
"Saya... saya hanya ingin Anda tahu niat saya. Bahwa saya tidak sedang bermain-main. Saya ingin membangun masa depan dengan putri Anda. Saya akan melakukan apa pun untuk membuatnya bahagia dan memastikan kami bisa tetap bersama."
"Apa pun?" ulangnya.
"Ya, Tuan. Apa pun."
Dmitri bersandar di kursinya. Beliau menatap ke luar jendela sejenak, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Aku juga pernah seumuran denganmu saat bertemu dengan ibu Claire," katanya pelan, mengejutkanku. "Aku adalah seorang diplomat muda yang ambisius, dan dia adalah seorang mahasiswi seni yang cantik. Banyak orang mengatakan kami terlalu muda, terlalu terburu-buru." Beliau menoleh padaku, dan aku melihat kilas balik kenangan di matanya. "Tapi saat kau tahu, kau tahu. Cinta sejati tidak mengenal usia atau waktu."
Beliau tersenyum tipis. "Claire... dia berbeda sejak bertemu denganmu. Dinding yang selalu ia bangun di sekelilingnya telah runtuh. Dia tertawa lebih lepas. Dia terlihat benar-benar hidup. Sebagai seorang ayah, hanya itu yang kuinginkan untuknya."
Beliau mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak akan menghalangi kebahagiaan putriku. Jika dia memilih untuk tinggal di Jepang bersamamu, dan jika kau bisa membuktikan bahwa kau bisa menjaganya dan memberinya masa depan yang baik... maka kau akan mendapatkan restuku."
Mendengar kata-kata itu terasa seperti beban berat terangkat dari pundakku.
"Tapi," lanjutnya, tatapannya kembali menajam, "ingat ini, Nak. Jika kau menyakitinya, jika kau membuatnya meneteskan air mata, aku akan menemukanmu di mana pun kau berada. Mengerti?"
Ancaman terselubung itu terasa sangat nyata. Tapi aku tidak takut.
"Saya mengerti, Tuan," jawabku dengan mantap. "Dan saya berjanji dengan nyawa saya, saya tidak akan pernah menyakitinya."
Pertemuan itu berakhir tidak lama setelah itu. Saat aku berjalan keluar dari hotel, aku merasa sepuluh kaki lebih tinggi. Aku telah mendapatkan restu bersyaratnya. Langkah pertama dari rencanaku yang gila telah berhasil. Sekarang, saatnya untuk langkah berikutnya, langkah yang paling menakutkan.`
},
{
chapterNum: 5,
chapterTitle: "Cincin dan Keraguan",
content: `Dengan restu dari Dmitri dan tabungan hasil kerja paruh waktuku yang terus bertambah, rencanaku yang gila mulai terasa nyata. Aku akan melamar Claire.
Mengucapkan kalimat itu dalam hati saja sudah membuat perutku mulas. Kami masih di SMA. Ini gila. Ini tidak masuk akal. Orang-orang akan menganggap kami bodoh. Tapi setiap kali aku membayangkan kemungkinan Claire harus pindah ke negara lain, semua keraguan itu lenyap, digantikan oleh tekad yang membara. Ini adalah satu-satunya cara. Sebuah deklarasi. Sebuah jangkar yang akan menahannya di sini, bersamaku.
Langkah selanjutnya adalah membeli cincin. Ini mungkin bagian paling menakutkan dari semuanya. Bagaimana cara seorang siswa SMA culun sepertiku masuk ke toko perhiasan tanpa terlihat seperti maling?
Aku menghabiskan waktu berhari-hari melakukan riset online. Aku mempelajari tentang "Empat C" (cut, color, clarity, carat) yang membuat kepalaku pusing. Aku melihat-lihat desain yang tak terhitung jumlahnya. Aku ingin sesuatu yang sederhana, elegan, dan abadi. Sesuatu yang cocok untuk Claire.
Akhirnya, aku memberanikan diri. Aku pergi ke sebuah distrik perbelanjaan yang lebih tenang, mencari toko perhiasan yang tidak terlalu mencolok. Aku masuk dengan jantung berdebar, merasa semua mata tertuju padaku. Seorang pramuniaga wanita yang ramah menghampiriku.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda?"
"Sa-saya... mencari cincin," gagapku. "Untuk... pacar saya."
Dia tersenyum penuh pengertian. "Tentu saja. Untuk acara spesial?"
"Sangat spesial," jawabku.
Dia menunjukkan berbagai macam cincin di etalase kaca. Harganya membuatku pusing. Sebagian besar jauh di luar jangkauanku. Aku mulai merasa putus asa. Mungkin ini memang ide yang bodoh.
"Mungkin... sesuatu yang lebih sederhana?" kataku, menjelaskan anggaranku yang terbatas.
Pramuniaga itu tidak meremehkanku. Sebaliknya, dia tampak tersentuh oleh kesungguhanku. Dia membawaku ke bagian yang berbeda.
"Ini mungkin lebih cocok," katanya.
Di sana, aku melihatnya. Cincin itu tidak memiliki berlian besar yang mencolok. Cincin itu terbuat dari platinum tipis yang berkilauan. Desainnya seperti sulur tanaman yang melingkar, dan di tengahnya, bertakhta sebuah batu safir kecil berwarna biru jernih. Biru seperti mata Claire.
"Ini indah," bisikku.
"Safir melambangkan kebijaksanaan, kesetiaan, dan kebenaran," jelas pramuniaga itu.
Aku tahu ini adalah cincin yang tepat. Harganya memang menguras hampir seluruh tabunganku, tapi aku tidak peduli. Aku membelinya.
Saat aku berjalan pulang, dengan kotak beludru kecil yang terasa berat di dalam sakuku, keraguan kembali menyerangku. Apa aku benar-benar siap untuk ini? Apa kami siap? Ini adalah komitmen seumur hidup. Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan gairah. Ini tentang tanggung jawab, tentang menghadapi kesulitan bersama.
Aku berhenti di sebuah jembatan, menatap aliran sungai di bawah. Aku mengeluarkan kotak itu dan membukanya. Cincin itu berkilauan di bawah sinar matahari sore. Aku membayangkan cincin ini melingkar di jari manis Claire. Aku membayangkan wajahnya saat aku melamarnya.
Ya, aku takut. Tapi rasa takutku untuk kehilangannya jauh lebih besar. Aku menutup kotak itu dengan mantap. Aku akan melakukannya. Aku hanya perlu menemukan waktu dan tempat yang tepat.`
},
{
chapterNum: 6,
chapterTitle: "Festival Musim Gugur",
content: `Musim berganti. Panasnya musim panas yang penuh gairah perlahan memudar, digantikan oleh udara sejuk dan warna-warni musim gugur. Daun-daun maple mulai berubah warna menjadi merah dan kuning, menciptakan pemandangan yang indah di seluruh kota. Dan bersamaan dengan itu, datanglah musim festival musim gugur.
Aku memutuskan ini akan menjadi saat yang tepat. Festival memiliki tempat yang spesial dalam sejarah hubungan kami. Festival musim panas adalah tempat kami pertama kali merasakan kedekatan yang nyata. Festival kembang api adalah tempat kami pertama kali menyatakan cinta kami. Dan festival musim gugur ini, akan menjadi tempat aku memintanya untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.
Aku mengajaknya ke sebuah festival yang diadakan di sebuah taman besar yang terkenal dengan pohon-pohon maple-nya. Saat kami tiba, hari sudah sore. Udaranya sejuk, dan kami bisa melihat napas kami sendiri di udara. Kami mengenakan mantel hangat, dan Claire melilitkan syal rajut di lehernya, membuatnya terlihat sangat imut.
Kotak cincin itu terasa seperti bom waktu di saku mantelku. Aku terus-menerus menyentuhnya, memastikan benda itu masih di sana. Sarafku tegang, tapi aku berusaha bersikap normal.
Kami berjalan-jalan, menikmati suasana festival yang lebih tenang dan syahdu dibandingkan festival musim panas yang riuh. Kami membeli ubi bakar manis (yaki-imo) dan memakannya bersama sambil menghangatkan tangan kami. Kami mencoba permainan melempar gelang, dan kali ini aku berhasil memenangkan sebuah gantungan kunci berbentuk daun maple, yang langsung kuberikan padanya.
Interaksi kami terasa begitu mudah dan nyaman. Kami tidak perlu terus-menerus berbicara. Kami bisa berjalan dalam keheningan yang nyaman, hanya menikmati kehadiran satu sama lain. Inilah yang kuinginkan untuk selamanya. Saat-saat sederhana seperti ini.
Saat malam tiba, lampu-lampu dinyalakan di sepanjang jalan setapak, dan pohon-pohon maple disorot dari bawah, menciptakan pemandangan yang magis. Daun-daun merah itu seolah terbakar di tengah kegelapan.
"Indah sekali," bisik Claire, menyandarkan kepalanya di bahuku saat kami berhenti untuk mengagumi pemandangan.
"Iya," jawabku. Tapi aku tidak sedang melihat pohon-pohon itu. Aku sedang menatapnya.
Jantungku mulai berdebar kencang. Aku tahu momennya semakin dekat. Aku harus menemukan tempat yang tepat. Tempat yang sedikit lebih sepi. Aku melihat sebuah jalan setapak kecil yang mengarah ke sebuah anjungan kayu di tepi sebuah kolam kecil. Sepertinya itu tempat yang sempurna.
"Ayo ke sana," kataku, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil.
Dia mengangguk, dan kami berjalan menyusuri jalan setapak itu, menjauh dari keramaian. Setiap langkah terasa semakin berat. Ini dia. Momen yang akan menentukan sisa hidupku.`
},
{
chapterNum: 7,
chapterTitle: "Momen yang Sempurna",
content: `Anjungan kayu itu kosong, seperti yang kuharapkan. Permukaan kolam yang tenang memantulkan cahaya lampu dan warna-warni daun maple, menciptakan lukisan hidup yang sempurna. Kami berdiri di sana, menatap pantulan kami di air. Udara terasa dingin, tapi aku sama sekali tidak merasakannya. Adrenalin membuat darahku panas.
"Aku suka musim gugur," kata Claire pelan, memecah keheningan. "Musim ini terasa... tenang. Seperti sebuah jeda sebelum musim dingin yang panjang. Sebuah kesempatan untuk mengagumi keindahan sebelum semuanya tertidur."
"Aku juga," jawabku. "Musim ini juga terasa seperti sebuah janji. Janji bahwa setelah musim dingin, musim semi akan datang lagi."
Dia menoleh padaku dan tersenyum. "Kau terdengar puitis hari ini."
Aku balas tersenyum, meskipun senyumku terasa kaku. Aku meraih kedua tangannya. Tangannya terasa dingin, dan aku menggenggamnya erat untuk menghangatkannya.
"Claire," aku memulai, dan suaraku terdengar lebih serius dari yang kumaksud. "Aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu yang penting."
Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi penasaran. "Tentu. Ada apa, Alip?"
Aku menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya.
"Aku... aku sudah banyak berpikir sejak percakapan kita malam itu. Tentang masa depan. Tentang kemungkinan kau harus pindah."
Wajahnya sedikit muram saat aku menyebutkan itu. "Aku juga memikirkannya. Setiap hari."
"Aku tahu," kataku lembut. "Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kau bilang kau merasa 'pulang' saat bersamaku. Dan bagiku, kau adalah rumahku. Aku tidak bisa berfungsi tanpa rumahku."
Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita sudah melewati banyak hal bersama," lanjutku, suaraku bergetar karena emosi. "Dari tetangga yang canggung, menjadi teman, menjadi sepasang kekasih. Kita belajar bersama, tertawa bersama, bertengkar, dan berbaikan. Kita telah... berbagi segalanya." Aku menekankan kata terakhir, dan aku tahu dia mengerti maksudku. "Kita telah memberikan bagian terdalam dari diri kita satu sama lain."
"Alip..." bisiknya.
"Aku tahu kita masih muda," kataku cepat, sebelum keberanianku hilang. "Aku tahu ini gila. Orang-orang akan mengatakan kita terburu-buru. Tapi aku tidak peduli. Aku lebih takut kehilanganmu daripada takut dianggap gila. Aku mencintaimu, Claire Louise. Aku mencintai sisimu yang dingin, sisimu yang galak, sisimu yang lembut, dan sisimu yang... liar."
Aku melepaskan satu tangannya, dan dengan tangan gemetar, aku merogoh saku mantelku. Aku mengeluarkan kotak beludru kecil itu. Jantungku terasa seperti akan melompat keluar dari dadaku.
Mata Claire membelalak saat melihat kotak itu. Tangannya menutup mulutnya, napasnya tertahan.
"Aku tahu aku tidak bisa memberimu dunia," kataku. "Tapi aku bisa memberimu seluruh duniaku. Aku bisa berjanji untuk selalu berada di sisimu, untuk melindungimu, untuk membuatmu tertawa, dan untuk membangun masa depan kita bersama, bata demi bata. Aku ingin bangun di sampingmu setiap pagi. Aku ingin menjadi alasanmu untuk tinggal."`
},
{
chapterNum: 8,
chapterTitle: "Sebuah Janji Selamanya",
content: `Di bawah cahaya lembut dari lampion festival dan sorotan lampu yang menerangi daun maple merah, aku berlutut dengan satu kaki di atas anjungan kayu yang dingin. Aku membuka kotak beludru itu. Cincin dengan batu safir biru kecil di dalamnya berkilauan, menangkap cahaya, tampak secemerlang mata gadis di hadapanku.
Claire terkesiap. Air mata yang sejak tadi menggenang di matanya, kini mengalir deras di pipinya. Tapi ini bukanlah air mata kesedihan. Ini adalah air mata keterkejutan, keharuan, dan kebahagiaan murni.
"Claire Louise," kataku, suaraku mantap meskipun seluruh tubuhku gemetar. "Maukah kau... menikah denganku?"
Keheningan yang mengikuti pertanyaanku terasa seperti berlangsung selamanya. Seluruh dunia seakan berhenti berputar. Aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri dan isak tangisnya yang tertahan. Aku menunggu, menahan napas, seluruh masa depanku bergantung pada satu kata darinya.
Dia tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku, lalu menatap cincin itu, lalu kembali menatapku. Seolah dia tidak bisa percaya ini nyata. Lalu, melalui air matanya, dia tersenyum. Senyum paling cemerlang, paling indah yang pernah kulihat.
"Ya," bisiknya, suaranya serak karena emosi. "Ya... Ya, tentu saja aku mau, bodoh!"
Kata 'ya' itu adalah suara terindah yang pernah kudengar. Gelombang kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa menghantamku. Aku tersenyum begitu lebar hingga pipiku terasa sakit. Dengan tangan yang masih gemetar, aku mengambil cincin itu dari kotaknya dan dengan hati-hati memasangkannya di jari manis tangan kirinya. Cincin itu pas sekali. Terlihat begitu sempurna di sana. Seolah memang ditakdirkan untuk berada di sana.
Aku berdiri, dan dia langsung menghambur ke dalam pelukanku. Dia menangis di bahuku, memelukku begitu erat seolah takut aku akan menghilang. Aku balas memeluknya, membenamkan wajahku di rambutnya yang wangi.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu," bisiknya berulang kali di antara isak tangisnya.
"Aku juga mencintaimu," balasku. "Lebih dari apa pun."
Kami berdiri di sana untuk waktu yang lama. Saat tangisnya mereda, aku menangkup wajahnya dan menghapus sisa air matanya dengan ibu jariku. Lalu aku menciumnya. Ciuman itu berbeda. Ciuman itu adalah sebuah segel. Sebuah kontrak suci. Ciuman antara dua orang yang baru saja berjanji untuk menghabiskan sisa hidup mereka bersama.
Dia menarik tangannya dan menatap cincin di jarinya, seolah masih tidak percaya. "Kita... bertunangan."
"Ya, kita bertunangan," kataku, mengulangi kata itu. Rasanya begitu dewasa dan nyata.
Kami berjalan pulang dari festival, tidak lagi hanya sebagai sepasang kekasih, tetapi sebagai calon suami dan istri. Tangan kami tak terpisahkan, dan cincin safir itu sesekali berkilau saat terkena cahaya lampu jalan. Semua masalah—ujian, universitas, pekerjaan ayahnya—masih ada di sana. Tapi sekarang, semua itu terasa bisa diatasi. Karena kami akan menghadapinya bersama, sebagai satu kesatuan.
Malam itu, di penghujung musim gugur, di bawah naungan daun maple yang merah menyala, kami telah membuat janji kami. Janji untuk selamanya. Dan volume berikutnya dalam buku kehidupan kami akan menjadi bab yang paling menantang sekaligus paling membahagiakan. Bab pernikahan.
(Volume 7 Selesai)`
}
]
};