-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Expand file tree
/
Copy path29RY.js
More file actions
79 lines (45 loc) · 5.99 KB
/
29RY.js
File metadata and controls
79 lines (45 loc) · 5.99 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
const epilogData = {
volumeNum: "Epilog",
volumeTitle: "Keluarga.",
chapters: [
{
chapterNum: 1,
chapterTitle: "Lima Tahun Kemudian...",
content: `Cahaya matahari sore yang keemasan menyelinap masuk melalui jendela ruang tengah kami, menerangi partikel-partikel debu yang menari-nari di udara. Aroma sup borscht yang kaya dan hangat—aroma khas rumah kami—menguar dari dapur. Aku duduk di sofa yang nyaman, sofa yang sama yang dulu kami rakit bersama dengan penuh frustrasi dan tawa, membolak-balik halaman sebuah buku dongeng bergambar.
"Dan kemudian," aku membaca dengan suara pelan dan dramatis, "roh musim dingin itu akhirnya menemukan kehangatannya, bukan dari matahari, tapi dari cinta sang gadis manusia. Mereka hidup bahagia selamanya."
"Lagi!"
Sebuah suara kecil yang nyaring menyahut dari pangkuanku. Aku menunduk dan tersenyum. Di sana, duduk dengan nyaman di antara lenganku, adalah seorang gadis kecil berusia empat tahun dengan rambut pirang platinum seperti ibunya, tetapi dengan mata hitam yang sama persis sepertiku. Namanya Anya Nakamura. Galaksi kecil kami.
"Tidak bisa, Sayang. Sudah waktunya makan malam," kataku sambil menggelitik perutnya, membuatnya tertawa cekikikan. Suara tawanya adalah musik terindah di dunia.
"Papa, apa roh musim dingin itu nyata?" tanyanya, matanya yang besar menatapku dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas.
"Hmm," aku pura-pura berpikir. "Mungkin saja. Dulu Papa pernah bertemu dengan seorang Ratu Es. Tapi ternyata, hatinya lebih hangat dari musim panas mana pun."
"Itu Mama, kan?"
"Tepat sekali, anak pintar."
Saat itu, Claire keluar dari dapur, menyeka tangannya di celemek. Waktu telah berlalu, tapi bagiku, dia tidak menua sedetik pun. Dia masih secantik gadis yang kutemui di hari pertama sekolah, tapi kini ada kelembutan dan kebijaksanaan seorang ibu di matanya yang membuatnya semakin memesona. Dia tersenyum melihat kami.
"Makan malam sudah siap, kalian berdua pemalas."
"Kami tidak malas, Mama!" protes Anya. "Papa sedang bercerita tentang Ratu Es!"
Claire tertawa. Dia menghampiri kami, mencondongkan tubuhnya, dan memberiku kecupan singkat di bibir sebelum mengangkat Anya ke dalam gendongannya. "Benarkah? Apa dia menceritakan bagian di mana sang Ratu Es berubah menjadi monster yang galak saat pahlawannya tidak mau mengerjakan soal matematika?"
"Heei," protesku.
Kehidupan kami tidak selalu seperti dongeng. Menjadi orang tua muda sambil kuliah adalah tantangan terberat yang pernah kami hadapi. Ada malam-malam tanpa tidur, pertengkaran karena kelelahan, dan kecemasan tentang keuangan. Kami harus belajar, bekerja paruh waktu, dan merawat bayi pada saat yang bersamaan. Itu adalah sebuah badai.
Tapi kami melewatinya. Bersama-sama. Setiap kali aku merasa akan menyerah, Claire ada di sana untuk mengangkatku. Setiap kali dia merasa kewalahan, aku ada di sana untuk memeluknya. Kami adalah sebuah tim. Janji yang kami ucapkan di altar pernikahan bukanlah sekadar kata-kata; itu adalah jangkar yang menahan kami tetap kuat di tengah badai.
Sekarang, kami telah lulus. Aku bekerja sebagai penerjemah di sebuah perusahaan penerbitan, sebuah pekerjaan yang kusukai yang memungkinkan aku untuk terus bermain dengan kata-kata. Claire, dengan kefasihannya dalam tiga bahasa, bekerja paruh waktu sebagai konsultan di sebuah lembaga budaya, sebuah pekerjaan fleksibel yang memungkinkannya menghabiskan banyak waktu bersama Anya. Kami tidak kaya, tapi kami punya semua yang kami butuhkan. Apartemen kecil kami dipenuhi dengan cinta, tawa, dan tumpukan buku yang tak ada habisnya.
Malam itu, setelah kami menidurkan Anya, aku dan Claire duduk di balkon kecil kami, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang buatan. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, dan aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, sebuah gestur yang begitu akrab dan nyaman.
"Dia menanyakan tentang Ratu Es lagi hari ini," kataku.
Claire tersenyum. "Dia menyukai cerita itu." Dia menatap cincin safir dan cincin kawin di jarinya, yang masih berkilauan di bawah cahaya remang-remang. "Rasanya seperti seumur hidup yang lalu, ya?"
"Rasanya seperti baru kemarin," balasku.
Kami terdiam, mengenang perjalanan kami. Dari tetangga yang canggung, menjadi teman sekelas, menjadi sepasang kekasih yang penuh gairah. Dari tunangan yang nekat, menjadi suami dan istri, dan kini, menjadi ayah dan ibu. Setiap bab terasa begitu hidup, begitu berharga.
"Kau tahu," bisiknya. "Aku tidak akan mengubah satu hal pun."
"Bahkan pertengkaran kita tentang Yumi?" godaku.
Dia menyikutku pelan. "Oke, mungkin satu hal itu," katanya sambil tertawa. "Tapi sisanya... sempurna."
Aku menatapnya. Wanita yang telah mengubah duniaku yang hitam-putih menjadi penuh warna. Wanita yang memberiku tujuan, memberiku kekuatan, dan memberiku keluarga. Ratu Es-ku. Istriku. Ibu dari anakku.
"Pidato Ryo di pernikahan kita," kataku tiba-tiba. "Dia benar."
"Tentang apa?"
"Tentang kita. Bahwa kita adalah dua bintang yang bersinar lebih terang saat bersama. Dan bahwa kita akan menciptakan galaksi kita sendiri."
Aku menunjuk ke arah apartemen kami yang hangat dan terang di belakang kami. "Lihatlah. Di dalam sana, ada bintang kecil kita yang sedang tertidur. Inilah galaksi kita, Claire. Mungkin tidak luas, tapi penuh dengan kehangatan dan cinta. Dan itu lebih dari cukup bagiku."
Dia mengangkat kepalanya dan menciumku. Ciuman itu tidak lagi dipenuhi gairah liar masa muda, melainkan kelembutan, kepercayaan, dan kenyamanan dari cinta yang telah teruji oleh waktu.
"Aku mencintaimu, Alip Nakamura," bisiknya di bibirku.
"Aku juga mencintaimu, Claire Nakamura," balasku.
Di bawah langit Tokyo yang tak berujung, dua bintang yang pernah tersesat itu telah menemukan orbit mereka. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah galaksi kecil, sebuah rumah. Dan mereka tahu, petualangan mereka masih jauh dari selesai. Karena cinta sejati bukanlah tentang "bahagia selamanya". Melainkan tentang "selamanya bersama", menghadapi apa pun yang akan datang, hari demi hari.
Dan itu, adalah akhir yang paling indah dari segalanya.`
}
]
};